Ya, Barcelona adalah Catalan. Sejak abad ke-16, mereka merasa menjadi negeri tersendiri bernama Catalonia. Wilayah yang memiliki bahasa, kebudayaan, lagu kebangsaan, dan identitas tersendiri yang tak bisa disamaratakan dengan negeri bernama Spanyol.
Kota Barcelona yang menjadi pusat kegiatan dijadikan ibukota Catalonia. Sedangkan klub FC Barcelona merupakan eja wantah atau representasi dari segala aspirasi, politik, kebudayaan, pendirian, dan sikap Catalonia. Es mes que un club. Demikian semboyan Barcelona dalam bahasa Catalonia yang artinya, Barcelona bukan sekadar klub.
Barcelona
tak bisa disamakan dengan Manchester United, Liverpool, AC Milan atau
klub lainnya. Sebab, Barcelona bukan sekadar urusan sepak bola, tapi
urusan negeri bernama Catalonia.
"Catalonia punya persatuan
yang kuat dan masyarakatnya juga punya perasaan identitas tersendiri
secara kuat. Sedangkan Barcelona menjadi simbol utama identitas
Catalonia," demikian tulis kolomnis Phill Ball.
Dengan klub
Spanyol lain, Barcelona memang satu atap. Tapi, klub ini merasa berada
di negeri tersendiri. Negeri Catalonia yang tak bisa disamakan dengan
Spanyol. Bahkan, masyarakat Catalonia mengaku tak ada kesamaan sama
sekali dengan Spanyol. Jika secara administratif mereka masuk menjadi
bagian dan negara Spanyol, itu lebih karena keterpaksaan.
Karena
itu pula, untuk menunjukkan eksistensinya, mereka selalu berusaha lebih
baik dan superioritas dibanding Spanyol. Salah satu medianya adalah
Barcelona. Semakin Barcelona sukses, eksistensi Catalonia akan semakin
besar dan punya pengaruh luas. Bagi mereka, FC Barcelona adalah segala
pertaruhan eksistensi Catalonia.
"Kami akan tetap menjaga
identitas kami. Keseluruhan esensi FC Barcelona adalah simbolisasi
Catalanisme. Kami secara fundamental adalah Catalan. Lihat logo klub
kami yang terdiri dari gambar St. George dan bendera Catalonia," jelas
Presiden Barcelona 2003-2010, Joan Laporta.
Menurut penulis Chris Kennett, badge
atau logo Barcelona merupakan contoh kuat dan nyata bahwa klub itu
bukan sekadar mengurusi sepak bola. "Logo itu gabungan dari sepak bola
dan sejarah politik Catalonia juga identitas Kota Barcelona sendiri.
Jadi, wajar jika mereka mengatakan Barcelona bukan sekadar klub,"
katanya.
Meski begitu, Barcelona tidak lantas menjadi klub
inklusif yang fanatik buta. Catalonia, kata Laporta, mengandung
universalisme. "Kami juga menghormati kebudayaan orang lain," tegasnya.
Begitulah
dan akan terus begitu. Barcelona tak bisa dilepaskan dari kebudayaan
dan politik Catalonia. Dia adalah simbol negara Catalonia, juga simbol
perlawanan terhadap Spanyol. Kemenangan Barcelona sudah dianggap
setengah kemenangan Catalonia dari Spanyol. Kemenangan utuh baru akan
terjadi jika Catalonia sudah merdeka. Dan, gerakan kemerdekaan atau
separatisme seperti itu tetap ada. Bahkan, sampai sekarang bisa dibilang
semakin subur.
Sejak lama, Catalonia memang selalu ingin merdeka, terpisah dari
Spanyol. Tapi, upaya itu tak pernah tercapai. Kenyataan itu ternyata
membuat warga Catalonia semakin gerah. Suara kemerdekaan terus
dikumandangkan lewat apa saja.
Gerakan politik dan militer
untuk kemerdekaan Catalonia memang terasa menghadapi banyak hambatan.
Selama keadaan seperti itu, peran Barcelona akan semakin besar. Sebab,
klub ini akan menjadi alat perjuangan paling berharga bagi warga
Catalonia. Bahkan, bisa dikatakan Barcelona adalah segalanya.
Hampir
setiap pertandingan Barcelona, ekspresi Catalanisme selalu kental
terlihat. Tak hanya di stadion, tapi juga di luar stadion. Dengan kata
lain, Barcelona selalu membawa aspirasi Catalanisme.
Sebelum
pertandingan, warga biasanya berkumpul di kafe-kafe dulu. Mereka tidak
hanya menyanyikan lagu-lagu mendukung Barcelona, tapi juga lagu-lagu
Catalonia yang kebanyakan berisi semangat kemerdekaan. Begitu juga
ketika mereka berjalan ke arah stadion.
Begitu stadion penuh
penonton, maka semangat Catalonia akan semakin besar dan kental. Bahasa
Catalonia sangat dominan. Ungkapan-ungkapan khas wilayah itu juga
bermunculan dari segala sudut.
Setelah itu, nyanyian-nyanyian
kompak akan diperdengarkan. Syair-syair lagu yang dinyanyikan rata-rata
bernada menyemangati Barcelona, dan tentu saja semangat-semangat
kemerdekaan Catalonia.
Tak hanya itu, spanduk-spanduk yang
bertebaran dimana-mana, rata-rata berisikan kampanye Catalanisme dan
perlawanan terhadap Spanyol. Saat ini, kampanye seperti itu justru
semakin gencar, karena represi dari pemerintah tak sekuat di masa
kekuasaan Primo de Rivera dan Jenderal Franco.
Apalagi,
pertandingan Barcelona selalu disiarkan televisi. Maka, pembentangan
spanduk politik Catalonia menjadi sangat efektif sebagai alat kampanye.
Mereka akan membentangkannya lebar-lebar agar tersorot televisi,
kemudian bisa disaksikan semua pemirsa televisi di seluruh dunia.
Banyak kalimat yang memang nyata-nyata merupakan kampanye
Catalanisme. Salah satu contohnya, "Catalonia bukan Spanyol", "Kami
punya negeri dan kebudayaan sendiri". Masih banyak kalimat-kalimat
kampanye yang di setiap pertandingan sering berbeda-beda, tapi intinya
tetap mengampanyekan Catalanisme.
Sikap para pemain asli
Catalonia pun tak jauh berbeda. Maka, pemain timnas Spanyol kebanyakan
bukan dari Barcelona. Defender Barcelona, Carles Puyol pun mengatakan,
membela timnas Spanyol hanya bagian dari ritus sepak bola.
"Saya
tak bermasalah dengan pemain lain di timnas Spanyol. Mereka teman. Tapi
kala membela Barcelona, tak ada kata teman lagi. Aku akan bekerja keras
untuk membawa kemenangan El Barca. Kemenangan buat klub ini bukan
sekadar mendapat nilai tiga, tapi nilainya jauh lebih besar. Apalagi
jika menang lawan Real Madrid," jelas Puyol.
Itu sebabnya Barcelona adalah es mes que un club,
bukan sekadar klub. Barcelona adalah simbol perjuangan, eksistensi, dan
identitas Catalonia. Sebuah wilayah di Spanyol selatan yang mengaku
punya kebudayaan, bahasa, negeri, dan asal-usul tersendiri yang tak bisa
disamakan dengan Spanyol. Semangat itu tak akan pernah luntur.
"Visca Barca, visca Catalonia," demikian kalimat yang sering diteriakkan suporter El Barca. Artinya, Barcelona selamanya, Catalonia selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar